Monday, 22 November 2010

When My Heart is Closed

          Aku masih terbaring lemah di rumah sakit. Lebih tepatnya koma. Otakku mengalami pendarahan hebat karena kecelakaan yang menimpaku kemarin. Sekarang, aku hanya berada di alam bawah sadarku. Ditempat serba putih dan kosong. 
            Entahlah, tapi menurutku ini hal yang pantas kudapatkan, mengingat karmaku setahun yang lalu. Dimana aku meninggalkan teman kecilku Fani, saat ia dioperasi karena menderita kanker hati.
            Kepergianku bukanlah tanpa alasan. Jika aku bisa menolak untuk ikut dengan orang tuaku, aku pasti sudah melakukannya. Aku mencoba melupakan masa lalu yang sangat pahit itu. Karena aku meninggalkan Fani disaat ia membutuhkanku, semua orang yang dekat denganku dulu, juga jauh dariku. Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana kabar mereka sekarang.
            Tapi bukan itu yang kupikirkan. Bukan juga tentang sekolah, atau teman-temanku yang sejak dua hari lalu aku terbaring disini, belum juga menjengukku. Aku memikirkan tentang pertengkaran hebatku dengan Rendi sebulan yang lalu.
            Aku sebenarnya juga tidak mengerti mengapa, tapi sebaiknya kita kembali ke waktu itu.
           
            Malam dimana kami duduk berdua di sebuah restaurant dan ia menceritakan padaku perasaannya kepada seorang wanita yang ia sayangi. Betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa ia menyayangi orang yang sekelas denganku. Namun Rendi tidak memberitahukan siapa nama cewek itu. Aku hanya mengangguk mendengarkan ceritanya. Membayangkan bahwa gadis yang disukainya adalah aku.
            Kutatap matanya. Ya, ia menyembunyikan perasaannya. Saat itu juga, aku tahu bahwa gadis yang disukainya itu adalah aku. Ku sebutkan  satu persatu nama cewek-cewek yang ada dikelasku. Yang ia lakukan hanya menggeleng. Ia tidak cukup pintar untuk berakting. Sampai akhirnya ku sebutkan namaku.
            Ia menatap bola mataku dan berkata, “Seandainya gadis yang kusayang itu kamu, bagaimana?”
            Aku meringis, sedikit tertawa. “Mana mungkin…”jawabku. Aku tahu, bahwa sebenarnya itu mungkin saja terjadi. Karena hanya tiga orang dikelasku yang mengenal seorang Rendi. Dan yang paling dekat dengannya adalah aku. Namun kutepis jauh-jauh pikiranku itu. Aku mulai menopang dagu, menunggu apa yang hendak dikatakannya. Ia juga menopang dagu dan kami saling berhadapan dan saling menatap.
            “Kenapa gak mungkin?”tanyanya.
            Aku memutar bola mataku. “Entahlah. Mungkin kau hanya mempermainkanku. Bisa saja kau berbohong bahwa orang yang kau suka itu sebenarnya tidak duduk di kelasku.”
            Ia tersenyum lebar. “Mungkin. Mungkin aku berbohong, dan mungkin tidak.”
            Sejak malam itu aku dihantui rasa penasaran yang mendalam. Aku menyukai Rendi. Sangat menyukainya. Dan kau tahu kan, apa yang dirasakan seseorang ketika tahu bahwa seseorang yang disukainya menyukai seorang gadis yang sekelas denganmu?

            Sesuatu yang aneh terjadi. Untuk beberapa hari, Rendi tidak membalas semua smsku. Atau berkata hai kepadaku saat kami saling bertemu. Aku heran. Benar-benar heran. Karena yang aku tahu, terakhir ia membalas smsku saat aku mengirimkan sebait lagu kepadanya.
            Don’t you say you didn’t love me back cause you know you did…
            Ia membalas sangat singkat, untuk siapa?
            Namun aku tidak menghiraukannya. Seandainya kau tahu bahwa itu untukmu.
            Aku juga mendapat fakta bahwa ia memang menyayangiku. Selain dari tatapan matanya, juga dari semua status di facebook yang ia tulis. Mungkin ini sedikit berlebihan, namun aku merasa bahwa apa yang ia tulis semuanya untukku. Terlebih lagi bahwa seorang teman wanitanya mengatakan padaku bahwa ia menyukai seorang gadis dikelasku dengan inisial IR.
            Tentu saja itu namaku. Intan Rahayu. Aku masih diam dan menunggu kejujuran yang harus ia katakan kepadaku sampai sekarang.

~~~~~

            “Intan koma??”aku terperanjat ketika mengetahui kabar tentang sesosok gadis yang ku kenal selama kurang lebih tujuh bulan itu.
            Ami mengangguk. “Iya. Kabarnya ia kecelakaan sepulang les kemarin dan baru dua hari dirumah sakit. Rencananya teman-temannya akan menjenguknya hari ini. Kau mau ikut?”
            Aku ragu dan bimbang. Mengingat tetang rasa pengecutku terhadap perasaanku kepadanya. Saat aku hendak menggeleng, hatiku berkata lain. “Aku mau menjenguknya nanti malam. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang seharusnya kukatakan dari dulu. Maukah kau menemaniku?”
            Ami mengangguk. “Baiklah” katanya lalu melenggang pergi meninggalkanku sendirian di kelas.
            Intan dirumah sakit?? Koma?? Dasar nakal. Sudah tahu ngebut dijalan itu berisiko tinggi. Tapi ia tetap saja melakukannya.
            Batinku resah dan gelisah. Lihat akibat perbuatanmu Rendi! Kau sengaja untuk menghindarinya selama sebulan karena terlalu takut untuk memikirkan perasaanmu yang paling dalam itu. Dan dampaknya? Kau mungkin orang terakhir yang mengetahui tentang keadaannya yang parah ini.
            Aku memaki-maki perasaanku sendiri. Ku baringkan kepalaku diatas kedua tanganku. Apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar menyesal! Aku benar-benar seorang pengecut!
            Aku hanya tak ingin cintaku kepadanya berbuah pahit nanti. Selain itu pula, aku tidak pernah merasakan cinta sebesar cintaku pada Intan. Ia memang lebih muda dariku. Kepolosannya, keluguannya, dan candanya menemaniku setiap detik dan setiap menit disaat aku kacau, bimbang dan bingung.
                       
Rasa menyesal muncul seketika saat kudapati dirinya berbaring diatas tempat tidur dengan kepala yang terbalut perban dan beberapa luka dikakinya. Selang oksigen masih ada dihidungnya. Intanku yang malang
“Malam tante…”sapaku pada seorang wanita separuh baya yang duduk di sofa.
“Malam. Temannya Intan ya? Masuk masuk.”
Aku dan Ami menurut. Kuletakkan buah yang sedari tadi kupegang di samping tempat tidurnya. Intan begitu manis walau matanya tertutup rapat. Rasa penyesalanku datang kembali. Seorang suster membuka pintu kamar dan berbicara dengan mama Intan.
“Maaf, tolong jaga Intan sebentar ya. Tante mau mengurus biaya perawatannya dulu.” Aku tersenyum.
Ami duduk di sofa, menelpon seseorang. Aku berdiri di samping tempat tidur Intan dan mengambil kursi. Kupegang tangannya yang dingin dan lemah tak berdaya.
Apa yang sudah kulakukan padamu Intan? Aku sungguh bodoh. Benar benar bodoh. Aku menolak kenyataan yang terjadi mentah-mentah. Kenyataan bahwa aku mencintaimu sejak dulu. Sejak kita pertama kali bertemu saat kelulusanmu. Aku seharusnya yang menjagamu. Aku yang seharusnya berada disampingmu disaat kau butuh. Namun aku malah menutup pintu hatiku dan mencoba membuang perasaanku terhadapmu jauh jauh.
Ku elus rambutnya. Kutatap kelopak matanya sambil berharap ia akan sadar dari tidur panjangnya. Tapi percuma.
Aku hanya tak ingin kau kecewa karena aku mencintaimu. Aku sungguh tidak layak mendapatkanmu. Walau aku tahu, kau juga mencintaiku. Tapi kau terlalu sempurna untukku.
Intan, sadarlah. Maaf karena ku sudah mengecewakanmu dan menghindar darimu. Aku yang salah. Aku yang bodoh meninggalkanmu. Tak kusadari air mataku menetes. Dengan cepat kuhapus air mataku itu. Tapi terlambat, Ami melihatnya. 
“Belum terlambat untuk mengungkapkan perasaanmu. Ia mungkin menunggumu untuk mendengar kejujuran yang sebenarnya. Katakanlah…”
           Aku mengangguk pelan. Kudekatkan mulutku ke telinganya dan berbisik, “Aku mencintaimu lebih dari apapun. Asal kau tahu itu.” 
Aku dan Ami akhirnya pergi setelah mama Intan kembali ke kamar. Walau sebenarnya, aku ingin ia melihatku saat pertama kali ia membuka matanya.
           “Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama lagi. Menghindari orang yang kau cinta, bukan jalan yang tepat untuk menghindar dari kesakitan yang akan  kau rasakan. Ceritakan pada Intan ketika ia sadar nanti.”
Aku mengangguk kuat. “I will”.


           Waktu mungkin akan mengijinkan kita untuk mengatakan kejujuran. Tapi hati bisa dengan mudahnya tertutup ketika kejujuran itu tak kunjung datang. 


Saturday, 13 November 2010

A Horrible Sunday with a Happy Ending

            Tadi malam Riney sudah belajar sungguh-sungguh untuk interview di tempat lesnya. Ini ujian interview terakhir bagi Riney di Linsey. Sehabis ini, ia bebas dari beban les malamnya yang menggagu konsentrasi belajarnya selama SMA.
            Riney sengaja datang terlambat untuk menghindar dari panggilan namanya. Riney nantinya akan duduk di kursi panas di ruang 1. Ruang yang biasanya dipenuhi oleh anak-anak pintar. Walau Riney menganggap posisinya di ruang 1 adalah kesalahan yang besar, ia tetap bersyukur. Setidaknya, ia dipandang tinggi oleh sekolah lain yang berada satu tempat les dengannya.
            Semua perserta telah berkumpul. Sesampainya di Linsey, Riney mencoba mengulang apa yang dihapalnya di rumah semalam. Ia melirik seorang cowo yang manis dan seumuran dengannya. Sesaat, ia buyarkan pikirannya tentang cowok itu. Dan keluarlah seorang tata usaha yang biasanya memanggil nomor peserta. Riney yang saat itu duduk dan mengobrol dengan temannya, dengan santai menunggu namanya dipanggil.
            “Ruang satu. 017…”
            Saat itu Riney tidak menyangka bahwa orang pertama yang duduk di kursi panas ruang satu adalah dirinya. Padahal ia belum siap untuk masuk keruangan itu. Iapun tergesa-gesa mengambil blazer dari tasnya dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Beberapa teman meneriakinya. “Good luck Riney!”
            Sesampainya ia disana, dua orang dewasa duduk di bangku tepat didepan tempat duduknya. Sedangkan sang penilai duduk di depan papan tulis. Riney menyerahkan kartu namanya ke seorang lelaki bertubuh besar, berkulit hitam, dan bermuka galak. Dialah sang penilai. Entah mengapa, pertama kali melihat lelaki itu, Riney merasa gelisah. Ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Lelaki itu menyuruhnya untuk menceritakan rangkuman dari bahan yang dikerjakan Riney selama satu bulan.
            “Well, good morning. I will explain to you about my composition about the functions of midwives in rural area. Without wasting the time, let me begin..”
            Riney menarik nafas sejenak. Melihat ke dua integrator yang akan menginterviewnya itu membolak-balikkan halaman demi halaman hasil kerjanya. Ia pun mulai bercerita. Tapi entah kenapa, saat itu Riney tidak mengingat apa-apa. Ia masih belum siap. Akhirnya, ia hanya bercerita apa yang ia ingat tentang makalahnya itu dengan kalimat yang terpotong-potong. Setelah mengatakan “That’s all. Thank you” ia pun dipersilahkan duduk.
            Untuk pertanyaan pertama, dilaluinya dengan mudah. Begitupun dengan semua pertanyaan yang diberikan oleh Mr.Dirman. Semua dilaluinya dengan mudah. Sampai akhirnya mikrophon Mr.Dirman beralih ke seorang wanita muda yang duduk disebelahnya. Wanita itu menyapa Riney dengan sopan. “Good Morning…”katanya.
            “Good morning”jawab Riney.
            “For the first I would like to ask you about midwives. In your opinion, what is the meaning about midwives?”
            Riney merasa aneh. Karena pertanyaan tadi telah dilontarkan oleh Mr.Dirman. Untungnya ia bisa menjawab pertanyaan wanita muda itu dengan gampang.
            Namun sepertinya wanita tersebut tidak menyukai jawabannya. Wanita itu bertanya lagi, “Midwives in Indonesia is dukun beranak right?”
            Riney tercengang. “No, a midwife that I meant is bidan.”
            Wanita itu terdiam. Riney berkata dalam hati, aku yang salah atau integratornya yang salah? Namun saat melihat wajah wanita itu, sepertinya wanita itu tidak mengerti dengan apa yang Riney katakan. Riney mengulang lagi. “Midwives are bidan. Not a dukun beranak.”
            Wanita itu menerima jawabnya dengan berat hati. Lalu bertanya lagi, “Well, I see. Hmm, you know in Indonesia many woman are died when they born a child and its because a midwives. What do you think?”
            Riney terdiam. Mencari jawaban yang tepat, lalu berkata, “I think, midwife has done the best for the baby. And if there a woman or a baby died, I think it’s God decision. Not because the midwife.”jawab Riney dengan asal.
            “Okay. Thank you for your answer.”
            Riney mengangguk. Selesai sudah ujian interviewnya hari itu. Ia merasa lega.
            “Miss Riney!”
            Sebuah suara datang dari depan kelas. Lelaki bertubuh besar yang sedari tadi diam, memanggilnya. Aku kira sudah selesai, batin Riney.
            “I want ask you, what do you mean about rural area?”
            Riney diam. Mampus! Perasaan di makalah aku ga ada tentang rural area, fikirnya. Dengan terbata-bata ia menjawab.
            “It’s like a village, maybe…”
            Sang penilai tercengang. Dengan wajah marah dan suara lantang, ia berkata. “You know what? Your title is about functions of midwives in rural area. But you can’t explain what rural area mean is!”
            Riney terkaget. Riney baru sadar bahwa judulnya tidak berhubungan dengan isi makalahnya. Saat itu baru ia ingat bahwa bulan lalu, ia sangat sibuk dan sembrono mencari data tentang makalahnya itu. Ia juga baru sadar, bahwa apa yang ia bahas tentang bidan, bukan dukun beranak yang seharusnya dijadikan isi dari makalahnya.
            “Your title and your composition are not connected at all! So, I ask you once again, what do you mean about rural area?!”
            Riney diam. Badannya menggetar mendengar hentakan yang disampaikan oleh sang penilai. Baru kali itu ia dibentak oleh seorang integrator. Dengan apa adanya, ia menjawab, “I’m sorry, I was busy and too focus about midwives. I didn’t realize that what the title mean is dukun beranak…”
            “Ya! You admit your mistake. Its okay if you busy and take all of information you need from internet, but you must understand the meaning about title! It’s your big mistakes. Thank you!”
            Untuk sesaat Riney terpaku ditempat. Ia mengakui kesalahnnya. Tapi ia sangat tidak menyangka bahwa lelaki bertubuh besar itu membentaknya dengan kasar. Sangat kasar. Ia pun keluar ruangan dengan tubuh lunglai.
            Sesampainya diluar, ia dikerubungi teman-teman lesnya. Mereka semua bertanya apa yang integrator tanyakan kepada Riney. Riney tidak menyadari bahwa matanya berlinang dan ia menangis.
            “Aku dibentak bentak sama mister yang menilai…”kata Riney.
            “Tubuhnya besar? Hitam? Matanya melotot?”Tanya  Hirda. Riney mengangguk.
            “Ohhh. Mr.Tantowi lah tuh.”lanjut Hirda lagi.
            Entah kenapa air mata Riney terus berlinang. Mereka yang menghampirinya mengelus-elus pundak Riney.
            “Sabar yah. Dia juga bikin temen aku nangis. Bahkan kamu lebih hebat dari pada temen aku. Temen aku nangisnya didepan para integrator. Kamu nangisnya diluar. Kamu masih bisa buktiin bahwa didepan mereka kamu gak takut..”
            “Tapi aku gak pernah dibentak! Setidaknya mereka hargai apa yang aku buat, bukan menyudutkan aku!”lanjut Riney.
            Indah yang sedari tadi memegang kertas hapalan berkata,”Aduh, aku jadi takut nih. Aku juga ruangan satu masalahnya. Lihat kak Riney nangis aja, aku merinding. Kak Riney yang udah pinter bahasa inggris aja nangis, padahal dia bisa jawab. Lah aku? Baru aja menghafal…”
            Riney diam. Ia duduk di bangku diantara sekolah-sekolah lain. Betapa malunya ia menjadi pusat perhatian mereka. Ia menutup wajahnya, menangis lagi.
            “Nih.”
            Sebuah tisu tiba dihadapannya. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang memberikan tisu itu. Dilihatnya cowok manis sedang duduk disampingnya. Cowok yang diperhatikan Riney sebelum dia di interview. Cowok itu ikut prihatin dan bertanya dengan lembut dan sopan, “kenapa nangis?”
            Riney menggeleng. Mencoba menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan cowok baik tersebut.
            Cowok itu berkata lagi, “Sabar yah. Pasti ada hikmahnya. Gak usah dipikirin. Mr.Tantowi emang kurang kerjaan. Nih tisu lagi…”
            Riney mengambil tisu lagi. Cowok itu tersenyum lalu pergi ketempat teman-temannya. Betapa bahagianya Riney dihibur oleh cowok manis dan baik hati yang tidak dikenalnya itu. Riney tersenyum lagi dan menoleh ke arah cowok baik itu dan mengucapkan “makasih” dengan bahasa bibir. Cowok itu tersenyum dan berkata “You are welcome”. Riney tak menyadari bahwa pipinya memerah.

Monday, 8 November 2010

Inspiring Kids

             Abis browsing selama dua hari kemarin, gue nemuin hal yang... hmm, aneh, ajaib, patut dijadikan contoh juga. Mereka adalah anak anak yang masih dibawah umur namun sangat sangat ajaib! Penasaran? Let's check it out! 
    1. Evita Nuh, De Crème and De La Crop  
  
 The amazing kid of fashion I ever met. bocah sebelas tahun ini ahir di Indonesia  yang sangat lihai berbahasa Inggris dan pengetahuaanya tinggi akan fashion dan sangat menyukai photography. Prestasinya digapai hingga ia diwawancarai oleh Paris Most Wanted, Pauline fashionblog.com dan Hypeed (samapi Internasional loh!!!) Ia juga menjadi Icon untuk fashion di Indonesia. Banyak banget orang orang dewasa yang mengagumi kecakapan dan gaya-gaya Evita Nuh ini. Awalnya, ia memulai karirnya di blog dan memulai blognya yang bernama De Crème and De La Crop saat umur sembilan tahun (umur disaat gue masih dongo depan komputer gak tau fungsi komputer itu apa)
Selain itu, Evita Nuh juga tertarik di bidang kungfu, dan mandarin. Saat diwawancara Hypeed, ia mengatakan bahwa  waktu kecil ia sudah mulai berdandan bersama ibu dan adiknya. Bahkan pada umur enam tahun, ia sudah bisa memilih pakaiannya sendiri (kalo gue? Enam tahun masih dipakein baju sama mama. Hahaha). Faktor lain yang mendukung ia untuk mulai blogging adalah tidak adanya teman dirumah. Padahal Evita Nuh ini senang sekali berbicara. “That way I can talk as much as I want .”katanya.
Mr Alexander McQueen dan Tatsuro Horikawa adalah designer favoritnya. Ia juga sering di banding-bandingkan dengan Tavi, bocah 13 tahun Amerika yang terkenal akan blognya. Yang bikin gue salut banget sama seorang Evita Nuh ialah, ia tahu bidang apa yang ia sukai dan ia berusaha untuk menggalinya lebih dalam. Ia juga tidak peduli berapa umurnya dan ia bisa membuktikan kepada Indonesia  dan Dunia bahwa ia mampu walau hanya seorang bocah. Dari Indonesia lagi! membanggakan ! 

2.Cleopatra Stratan, Bocah Penyanyi Berusia 3 Tahun dengan Gaji 1000€ per lagu
Lahir tanggal 6 Oktober 2002, Cleopatra memulai karirnya sebagai penyanyi termuda dan menerima penghargaan MTV. Bayangkan saya, dia menyanyi pada usia 3 tahun.  
          Awalnya, Cleopatra dan ayahnya, Pavel Stratan berada di sebuah studio rekaman lagu. Nah, saat itu Cleopatra meraih mikrofon dan mulai bernyanyi detik itu juga, orang-orang yang mendengar suaranya kagum dan akhirnya ia dimasukkan dalam Guinness Book of World Records sebagai bakat termuda yang pernah tampil di atas panggung dan mencatat album sendiri. Lagu-lagunya di translate kedalam bahasa Spanyol dan Inggris. Ia juga sukses di Jepang loh!     
            
La vârsta de Trei ani (Pada usia 3) adalah disk double platinum pada musim panas tahun 2006 yang dijual lebih dari 150.000 album di Rumania. Pada bulan Desember 2006, ayahnya mengumumkan bahwa sampai album berikutnya (mungkin dalam satu atau dua tahun), dia tidak akan lagi menyanyi publik.
          Pada Desember 2006, terbesar hit Cleopatra adalah lagu "Ghita".  Pada tahun 2008, Cleopatra merilis album kedua disebut De La Varsta 5 Ani dengan lagu hit "Zunea-Zunea". Pada tanggal 13 Desember 2008, adiknya, Cezar (dinamai oleh Cleopatra) lahir. Dia juga memiliki sebuah konser pada tanggal 20 Desember sebelum berangkat Chisinau untuk melihat adiknya. Mengapa bocah ini menginspirasi gue? Karena bakatnya itu. Gila bo! Masih kecil loh, tapi udah konser di mana-mana. Internasional lagi!
           
     3. Aelita Andre, Pelukis di usia 2 tahun
             Berawal dari keikutsertaan Aelita di pameran lukisan Mark
Jamieson di balai seni Melbourne Fitzroy. Awalnya, seorang fotografer yang menyarankan Mark agar menampilkan lukisan-lukisan Aelita. Saat itu Mark belum tahu berapa usianya. Namun Mark tertarik dengan lukisan Aelita yang abstrak namun sangat ekspresif. 
           Setelah brosur tentang pameran disebar, Mark baru sadar bahwa salah satu pesertanya adalah bocah yang berumur 22 bulan (gue mah masih ngedot umur segitu). Hal ini mengundang banyak perhatian, baik masyarakat setempat, maupun dunia. 
          Dan hal yang lebih mencengangkan lagi, Aelita belajar melukis sebelum ia bisa berjalan! Hal ini juga didukung karena kedua orangtuanya adalah seniman. Sampai saat ini Aelita telah membuat 20 lukisan. Lukisan-lukisan itu tentunya tidak murah. Bahkan orang-orang yang ingin melihatnya harus antri terlebih dahulu. Dasar bocaaahh bocaaahh.


                                                                     




          



            




    4. Elaina Smith : Penyiar Usia 7 tahun
           Elaina Smith, bocah tujuh tahun yang menjadi penyiar termuda di Inggris. Elaina Smith inilah bocah yang berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan cinta dan kehidupan para orang dewasa. 
          Awalnya, Elaina ini sering menelpon radio setempat dan memberikan solusi terhadap masalah-masalah percintaan para orang-orang dewasa. Pengelola radio itu tertarik dengan Elaina, (walau suaranya tidak memungkinkan) dan menawarkannya untuk menjadi penyiar di stasiun tersebut sekali dalam seminggu. Semenjak ia menjadi penyiar, ia kerap kali memberi solusi terhadap berbagai masalah yang dialami para pendengarnya yang berusia dewasa mulai dari urusan percintaan, depresi, masalah rumah tangga sampai pada urusan rumah yang jorok dan bau. 
          Nah, berbeda dengan bocah-bocah diatas, mama Elaina juga terkejut saat Elaina memaksa mamanya untuk menelpon sebuah radio. Saat ia menelpon radio tersebut, ia mengatakan solusi yang tepat tentang permasalahan percintaan seseorang.

  5. Borischa mengaku dari planet Mars 
           Dari judulnya aja, mungkin dalam benak kalian bocah ini mengada-ngada. Tapi, coba kita lihat apa yang ia ketahui. Siapa tahu, artikel singkat tentang Borischa ini dapat membuat kalian nganga. Hahaha.
“Menurut laporan Truth Report Rusia pada tanggal 12 Maret 2004, disebutkan bahwa seorang anak lelaki berusia 7 tahun di kawasan utara Rusia mengaku dirinya berasal dari Mars, bahkan memiliki bakat bawaan yang menakjubkan dan kepandaian yang luar biasa. Borischa, demikian nama bocah dari planet lain itu melakukan perjalanan yang jauh dan sulit hingga tiba di kawasan yang penuh dengan misteri itu.”begitulah uraian pertama yang gue dapat seketika mencari informasi tentang bocah ganteng dan manis ini (eheeeemmm. seumuran sama gue gitu.) 
Bocah laki-laki ini menceritakan tentang daratan misterius Limoliya yang tenggelam di dasar laut dalam legenda kuno manusia. Dan menurut penuturan bocah laki-laki ini, ketika ia tiba di bumi dari planet Mars persis mendarat di sana, dan memahami sekali kehidupan di sana.
Limoliya adalah negeri misterius dalam legenda minimal 800 ribu tahun silam, jangankan anak-anak, bahkan profesor universitas pun mustahil semuanya bisa tahu, dan ia secara terperinci dan dengan paham sekali menceritakan sejarah, kebudayaan dan penduduk negeri yang kuno ini. Selain itu ia menguasai berbagai macam istilah kejuruan, memahami data-data dengan tepat dan cermat, bahkan mengetahui secara jelas tentang sejarah bumi dan planet Mars.
  Borischa yang misterius lahir ini di sebuah rumah sakit di pedesaan terpencil di kota kecil Rusia pada tanggal 11 Januari 1996. Ibunya bernama Nadezhda adalah orang baik, seorang dokter kulit di sebuah rumah sakit umum. Sedangkan ayah sang bocah adalah seorang pensiunan perwira tentara.
Pada umur 1,5 tahun sudah bisa membaca dan memahami judul berita yang ada di koran. Dan 2 tahun kemudian, Borischa memiliki daya ingat yang luar biasa, serta kemampuan menguasai pengetahuan baru yang sulit dipercaya.
Nadezhda mengenang kembali dan mengatakan: “Tidak pernah ada orang yang mengajarinya tentang hal-hal itu, namun kadang kala ia melipat kaki dan duduk menyilang, bicara dengan tenang dan penuh keyakinan akan hal-hal yang merawak rambang. Ia suka bicara tentang planet Mars, sistem planet, dan peradaban yang sangat jauh sekali. Kami benar-benar tidak berani percaya dengan pendengaran kami. Sejak usia 2 tahun, setiap hari ia seperti membaca kitab suci membicarakan tentang alam semesta, dan kisah dunia lainnya yang tak terhitung banyaknya juga tentang angkasa yang tiada batasnya.”
Sejak saat itulah, Borischa terus berkata pada orang tuanya, bahwa dulu ia tinggal di planet Mars. Ketika itu, ada sejenis manusia tinggal di planet Mars, oleh karena terjadi sebuah bencana dahsyat yang mematikan, lapisan atmosfer di atas planet Mars lenyap total, sehingga penduduk di atas planet Mars itu terpaksa harus hidup di kota bawah tanah. Dan sejak itu, ia sering keluar berdagang dan berkunjung ke bumi dengan tujuan mengadakan penelitian, lagi pula ia hanya seorang diri mengendarai pesawat antariksa.
Menurut penuturan Borischa, bahwa semua ini terjadi pada masa makmur peradaban Limoliya. Waktu itu, ia memiliki seorang sahabat karib di Limoliya, namun temannya ini tewas di hadapannya. (hiks.) “Waktu itu, di atas bumi telah terjadi suatu bencana dahsyat, sebuah daratan yang mahabesar bagaikan ditelan oleh hujan badai laut. Tiba-tiba, sebuah batu raksasa menghantam sebuah bangunan, dan secara kebetulan teman saya berada di sana, saya sama sekali tidak sempat menyelamatkannya.” Dengan hidup bocah laki-laki ini menceritakan seluruh pemandangan hilangnya Limoliya, bagaikan baru terjadi kemarin.
Borischa mengatakan, bahwa pesawat ulang-alik mereka, hampir dalam sekejap telah rampung dalam suatu perjalanan sejak tinggal landas dari planet Mars hingga mendarat di bumi. Bersama itu, ia mengeluarkan sebatang kapur tulis dan melukis sebuah benda yang berbentuk bulat di atas papan tulis. Ia mengatakan: “Pesawat ruang angkasa kami dibentuk dari 6 lapisan, lapisan luar mendominasi 25%, dibuat dari metal yang kokoh. Lapisan ke-2 mendominasi 30%, dibuat dari bahan yang menyerupai karet. Lapisan ke-3 mendominasi 30%, juga terbuat dari metal dan lapisan terakhir hanya mendominasi 4%, dibuat dari bahan magnetisme khusus. Jika kami mengisi penuh energi pada lapisan magnetisme ini, maka pesawat ruang angkasa bisa terbang menuju ke mana pun di alam semesta ini.”
Dengan agak serius Borischa juga memrediksi dan mengatakan, bahwa pada tahun 2009 akan terjadi bencana besar yang pertama kalinya di sebuah daratan di atas bumi, dan bencana kedua kalinya yang lebih menghancurkan lagi akan terjadi pada tahun 2013.


Nah, itulah 5 bocah yang menginspirasikan gue banget. Mungkin ada banyak dari kalian yang udah tahu salah satu dari mereka. Nah, gue harap bocah-bocah tersebut dapat juga mengilhami kalian guys. Dari mereka, semangat kita akan pengetahuan dan seni bisa bertambah. Tambahin komen juga dong. Makasi atas waktunya membaca post ini. Love you guys :D 

Sunday, 7 November 2010

A missing gift

             
A missing gift
    Malam menghujan. Dingin menusuk. Ditambah petir dan angin ribut. Aku masih memegang handphoneku. Menghibur diri dengan mendengarkan lagu rindu.
            Aku galau memikirkan pertengkaranku dengan Beni kemarin. Hal yang membuatku sangat sangat kesal sepanjang sejarah. Begini ceritanya.
            Saat itu siang menjelang sore. Namun hapeku sama sekali tak berdering. Tidak ada sms ataupun telepon darinya. Padahal hari itu hari ulang tahunku. Aku merasa kesal sekali. Benar benar kesal. Dan ternyata beberapa menit kemudian dia menelpon.
            “Maaf ya Dina, aku sibuk hari ini. Sekarang aku baru sampai rumah. Kamu lagi apa?”
            Aku kaget. Dia terdengar lelah dan terdengar tidak tahu menahu tentang hari ulang tahunku.
            “Nungguin kamu nelpon”balasku.
            “Ohh. Hmm, udah makan?”
            Just Ohh???! pikirku. “Udah. Kamu?”jawabku dengan ketus.
            “Udah juga. Udah dulu ya, aku lelah. Nanti malam aku telpon lagi.”
            Dan yang tambah bikin aku dongkol, dia yang mematikan telponnya duluan! Bukan aku! Geram. Benar-benar geram. Tapi aku masih berusaha untuk bersabar dan mengerti keadaannya yang lelah entah mengapa.
            Sampai akhirnya pukul sebelas malam. Aku masih duduk termanggu menunggu telpon dari Beni. Dasar anak itu. Apa jangan-jangan dia lupa untuk menelponku? Huh. Hari ulangtahun, tapi aku malah diam dirumah. Padahal rencanaku malam ini, makan malam berdua hanya bersamanya di tempat biasa. Aku juga tidak mengharap kado atau apalah itu. Ucapan selamat darinya pun merupakan anugrah buatku. Tapi kalau begini? Boro boro makan malam dan ucapan selamat. Ingat ulangtahunku pun sepertinya tidak.
            Lelah menunggu ia menelponku akhirnya aku tertidur. Hingga esok pagi aku terbangun, aku tidak melihat kalimat “1 new message” ataupun “1 missed call” dilayar handphoneku. Benar benar kelewatan!
           
            “Pagi…”sapa Beni saat ia datang menghampiriku dikantin. Aku menoleh. Untuk tiga detik kutatap ia dengan sinisnya lalu berpaling muka.
            “Kenapa?”tanyanya.
            “Kenapa?!”kataku. Ia terdiam. Wajahnya memancarkan rasa bersalah. Namun masih belum bisa melunakkan hatiku untuk memaafkannya. Akupun pergi. Dan yang tambah bikin aku marah, ia tidak melarangku pergi. Hanya duduk diam berpikir akan sesuatu. Kesal! Bagaimana perasaanmu jika hari ulang tahunmu disepelekan oleh pacarmu? Sakit hati pastinya!
            Sepanjang jam pelajaran disekolah, aku mencoba untuk tidak memikirkan kejadian semalam dan terus berpikir positif. Tapi tidak bisa. Menurut logikaku, adalah hal yang gak wajar jika seorang pacar TIDAK mengucapkan selamat ulangtahun kepada pacarnya sendiri. Bahkan teman-temanku yang sangat cuek dan jarang mengobrol denganku, dengan ramah mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku benar-benar kecewa.
            Sepulang sekolah, ia menungguiku di depan kelasku. Aku sengaja mengecohkannya dan terus melenggang pergi tanpa melihatnya. Tapi ia berhasil meraih tanganku.
            “Apa salahku?”katanya.
            “Apa??”tanyaku dengan suara membentak.
            “Kenapa sih? Gara-gara semalam aku tidak menelponmu? Maaf Din. Aku lelah sekali semalam. Semalam ada rapat osis dadakan dan aku lupa memberitahumu…”
            “Memberi tahu apa?!”tanyaku lagi. Kami bertatapan untuk beberapa detik. Ia tak bisa berbicara. Kuyakini saat itu juga, bahwa ia menyesal karena lupa akan ulang tahunku.
Kulepas tanganku dari genggaman tangannya. “Jangan bicara denganku lagi!!”
            Aku masih mendengar ia berteriak memanggil namaku beberapa kali. Tapi aku tidak menoleh. Sama sekali tidak.

            Sampai detik ini kami tidak pernah mengucapkan satu katapun. Disekolah, sms, telpon, atau chatting. Tidak pernah. Dan itu yang membuatku tidak bisa memaafkannya. Maksudku, aku memang manja. Tapi, coba bayangkan. Pacarmu tidak INGAT hari ulangtahunmu dan TIDAK mengucapkan maaf sekalipun! Kelewatan bukan? Selama ini aku memang sensitif terhadap jadwal sekolahnya yang padat akan rapat osis, latihan futsal, les dan sebagainya. Tapi kemarin adalah hari yang paling tidak berkesan buatku! Bahkan hari yang paling parah sepanjang sejarah hidupku!
            Handphoneku berdering. Dari Lolita.
            “Halo?”
            “Halo, Dina? Din! Tau gak sih kalau Beni mau pergi?”
            “Hah?? Engga. Kemana? Tau dari siapa?”
            “Hendri. Tadi rapat osis, terus Hendri bilang ke aku, kalau Beni akan pergi ke Bandung. Kok kamu bisa gak tau sih?”
            Aku terdiam sejenak. Beni pergi? “Makasi infonya Lol.” Kumatikan sambungan telepon dari sahabatku itu. Tak kusadari air mataku jatuh keluar.
            Setelah dua puluh menit aku menangis aku baru bisa berpikir. Jahat sekali Beni! Aku pacarnya, tapi aku baru tahu dia akan pergi. Entah dalam waktu singkat, atau pergi untuk selama-lamanya. Yang membuat aku tidak bisa berpikir bahwa ia mencintaiku adalah ia tidak mengucapkan kata perpisahan atau sebagainya. Setidaknya, pamit. Tapi? Hapeku berdering lagi. Dari Beni.
            “Dina ?”panggilnya.
            Aku hanya diam. Mungkin yang bisa ia dengar hanya isakan tangisku.
            “Kenapa menangis sayang?”
            Aku masih diam. Dasar lelaki tak berotak! pikirku.
            “Buka jendelamu sekarang.”lanjutnya.
            Aku menurut, ku usap air mataku saat kulihat ia diluar pagar rumahku sambil memegang sebuah cake coklat dihiasi dengan beberapa lilin. Aku juga melihat beberapa balon yang diikat disetir motornya.
            “Plis, keluar. Aku kedinginan.”katanya. Aku baru sadar bahwa hujan telah berhenti dan tak ada angin ribut lagi. Hanya jalanan licin dan ranting-ranting pohon yang basah.  
            Kuturuni anak tangga dan membuka pintu pagar. Ia tersenyum dan melangkah maju kearahku.
            “Happy Birthday sayang…”
            Aku hanya menatap kue itu. Tertulis di atasnya, “Selamat ulangtahun Dina Lorenza, my sweetest girl”
            “Maaf tapi kamu harus dengar penjelasanku. Aku sama sekali tidak melupakan ulangtahunmu. Tapi, hari itu…”
            “Apa?”tanyaku. Masih kutatap dia dengan sinisnya. Ia menunduk. Untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Aku tambah jengkel. Kenapa sih anak ini? pikirku.
            “Dihari ulangtahunmu, sahabatku meninggal…”
            Aku kaget. Untuk beberapa menit kami hening. Saat itulah rasa kasihanku muncul. “Kenapa kamu gak cerita?”tanyaku dengan ramah.
            “Terlalu menyakitkan untuk diceritakan. Dihari ulang tahunmu itu aku menangis semalaman. Rio adalah sahabat terbaikku, namun sayang, kita udah jauh. Aku disini, dia di Bandung. Besok aku akan pergi melihatnya. Sungguh, maafkan aku yang hina karena telah mengecewakanmu…”
            Ia masih menunduk. Sepertinya menangis. Ku ambil kue yang sedari tadi dipegangnya itu dan ku letakkan di atas motornya. Kupeluk dia.
            “Aku yang berdosa karena telah membebanimu.”kataku.
            Ia memelukku lebih erat dan kepalanya lemas seketika dibahuku. Ia berhenti menangis. “Aku sempat berpikir bahwa bodohnya aku tidak mengucapkan selamat dihari ulang tahunmu. Hari spesial bagimu. Dan aku merasa kesepian sekali saat kita tidak berbicara satu sama lain selama dua hari. Bukan maksudku untuk tidak minta maaf kepadamu, tapi selama dua hari itu aku merasa sangat terpukul….”
 Dan saat itu juga aku sadar. Betapa bodohnya aku. Aku terlalu egois dan selalu bertindak sendiri. Dia mengelus pipiku, “Namun kamu begitu baik. Kamu mengerti aku, sayang. Aku lelaki yang paling beruntung didunia karena memiliki malaikat terindah sepertimu. Terimakasih karena telah memilihku untuk menjagamu.”
            Aku hanya tersenyum. Kulepas diriku dari pelukannya. Ia mengambil kue yang dibelinya untukku. Lilin-lilinnya masih menyala terang.
            “Ingat, berdoa dulu dan mengucap syukur sebelum meniup lilinnya…”
            Aku mengangguk. Kupejamkan mataku dan berkata dalam hati bahwa Tuhan sungguh baik mengijinkan aku bersama Beni. Sungguh kejamnya aku melupakan Beni dihari ulangtahunku. Hadiah terindah yang diberikan oleh-Nya kepadaku.