Saturday, 13 November 2010

A Horrible Sunday with a Happy Ending

            Tadi malam Riney sudah belajar sungguh-sungguh untuk interview di tempat lesnya. Ini ujian interview terakhir bagi Riney di Linsey. Sehabis ini, ia bebas dari beban les malamnya yang menggagu konsentrasi belajarnya selama SMA.
            Riney sengaja datang terlambat untuk menghindar dari panggilan namanya. Riney nantinya akan duduk di kursi panas di ruang 1. Ruang yang biasanya dipenuhi oleh anak-anak pintar. Walau Riney menganggap posisinya di ruang 1 adalah kesalahan yang besar, ia tetap bersyukur. Setidaknya, ia dipandang tinggi oleh sekolah lain yang berada satu tempat les dengannya.
            Semua perserta telah berkumpul. Sesampainya di Linsey, Riney mencoba mengulang apa yang dihapalnya di rumah semalam. Ia melirik seorang cowo yang manis dan seumuran dengannya. Sesaat, ia buyarkan pikirannya tentang cowok itu. Dan keluarlah seorang tata usaha yang biasanya memanggil nomor peserta. Riney yang saat itu duduk dan mengobrol dengan temannya, dengan santai menunggu namanya dipanggil.
            “Ruang satu. 017…”
            Saat itu Riney tidak menyangka bahwa orang pertama yang duduk di kursi panas ruang satu adalah dirinya. Padahal ia belum siap untuk masuk keruangan itu. Iapun tergesa-gesa mengambil blazer dari tasnya dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Beberapa teman meneriakinya. “Good luck Riney!”
            Sesampainya ia disana, dua orang dewasa duduk di bangku tepat didepan tempat duduknya. Sedangkan sang penilai duduk di depan papan tulis. Riney menyerahkan kartu namanya ke seorang lelaki bertubuh besar, berkulit hitam, dan bermuka galak. Dialah sang penilai. Entah mengapa, pertama kali melihat lelaki itu, Riney merasa gelisah. Ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Lelaki itu menyuruhnya untuk menceritakan rangkuman dari bahan yang dikerjakan Riney selama satu bulan.
            “Well, good morning. I will explain to you about my composition about the functions of midwives in rural area. Without wasting the time, let me begin..”
            Riney menarik nafas sejenak. Melihat ke dua integrator yang akan menginterviewnya itu membolak-balikkan halaman demi halaman hasil kerjanya. Ia pun mulai bercerita. Tapi entah kenapa, saat itu Riney tidak mengingat apa-apa. Ia masih belum siap. Akhirnya, ia hanya bercerita apa yang ia ingat tentang makalahnya itu dengan kalimat yang terpotong-potong. Setelah mengatakan “That’s all. Thank you” ia pun dipersilahkan duduk.
            Untuk pertanyaan pertama, dilaluinya dengan mudah. Begitupun dengan semua pertanyaan yang diberikan oleh Mr.Dirman. Semua dilaluinya dengan mudah. Sampai akhirnya mikrophon Mr.Dirman beralih ke seorang wanita muda yang duduk disebelahnya. Wanita itu menyapa Riney dengan sopan. “Good Morning…”katanya.
            “Good morning”jawab Riney.
            “For the first I would like to ask you about midwives. In your opinion, what is the meaning about midwives?”
            Riney merasa aneh. Karena pertanyaan tadi telah dilontarkan oleh Mr.Dirman. Untungnya ia bisa menjawab pertanyaan wanita muda itu dengan gampang.
            Namun sepertinya wanita tersebut tidak menyukai jawabannya. Wanita itu bertanya lagi, “Midwives in Indonesia is dukun beranak right?”
            Riney tercengang. “No, a midwife that I meant is bidan.”
            Wanita itu terdiam. Riney berkata dalam hati, aku yang salah atau integratornya yang salah? Namun saat melihat wajah wanita itu, sepertinya wanita itu tidak mengerti dengan apa yang Riney katakan. Riney mengulang lagi. “Midwives are bidan. Not a dukun beranak.”
            Wanita itu menerima jawabnya dengan berat hati. Lalu bertanya lagi, “Well, I see. Hmm, you know in Indonesia many woman are died when they born a child and its because a midwives. What do you think?”
            Riney terdiam. Mencari jawaban yang tepat, lalu berkata, “I think, midwife has done the best for the baby. And if there a woman or a baby died, I think it’s God decision. Not because the midwife.”jawab Riney dengan asal.
            “Okay. Thank you for your answer.”
            Riney mengangguk. Selesai sudah ujian interviewnya hari itu. Ia merasa lega.
            “Miss Riney!”
            Sebuah suara datang dari depan kelas. Lelaki bertubuh besar yang sedari tadi diam, memanggilnya. Aku kira sudah selesai, batin Riney.
            “I want ask you, what do you mean about rural area?”
            Riney diam. Mampus! Perasaan di makalah aku ga ada tentang rural area, fikirnya. Dengan terbata-bata ia menjawab.
            “It’s like a village, maybe…”
            Sang penilai tercengang. Dengan wajah marah dan suara lantang, ia berkata. “You know what? Your title is about functions of midwives in rural area. But you can’t explain what rural area mean is!”
            Riney terkaget. Riney baru sadar bahwa judulnya tidak berhubungan dengan isi makalahnya. Saat itu baru ia ingat bahwa bulan lalu, ia sangat sibuk dan sembrono mencari data tentang makalahnya itu. Ia juga baru sadar, bahwa apa yang ia bahas tentang bidan, bukan dukun beranak yang seharusnya dijadikan isi dari makalahnya.
            “Your title and your composition are not connected at all! So, I ask you once again, what do you mean about rural area?!”
            Riney diam. Badannya menggetar mendengar hentakan yang disampaikan oleh sang penilai. Baru kali itu ia dibentak oleh seorang integrator. Dengan apa adanya, ia menjawab, “I’m sorry, I was busy and too focus about midwives. I didn’t realize that what the title mean is dukun beranak…”
            “Ya! You admit your mistake. Its okay if you busy and take all of information you need from internet, but you must understand the meaning about title! It’s your big mistakes. Thank you!”
            Untuk sesaat Riney terpaku ditempat. Ia mengakui kesalahnnya. Tapi ia sangat tidak menyangka bahwa lelaki bertubuh besar itu membentaknya dengan kasar. Sangat kasar. Ia pun keluar ruangan dengan tubuh lunglai.
            Sesampainya diluar, ia dikerubungi teman-teman lesnya. Mereka semua bertanya apa yang integrator tanyakan kepada Riney. Riney tidak menyadari bahwa matanya berlinang dan ia menangis.
            “Aku dibentak bentak sama mister yang menilai…”kata Riney.
            “Tubuhnya besar? Hitam? Matanya melotot?”Tanya  Hirda. Riney mengangguk.
            “Ohhh. Mr.Tantowi lah tuh.”lanjut Hirda lagi.
            Entah kenapa air mata Riney terus berlinang. Mereka yang menghampirinya mengelus-elus pundak Riney.
            “Sabar yah. Dia juga bikin temen aku nangis. Bahkan kamu lebih hebat dari pada temen aku. Temen aku nangisnya didepan para integrator. Kamu nangisnya diluar. Kamu masih bisa buktiin bahwa didepan mereka kamu gak takut..”
            “Tapi aku gak pernah dibentak! Setidaknya mereka hargai apa yang aku buat, bukan menyudutkan aku!”lanjut Riney.
            Indah yang sedari tadi memegang kertas hapalan berkata,”Aduh, aku jadi takut nih. Aku juga ruangan satu masalahnya. Lihat kak Riney nangis aja, aku merinding. Kak Riney yang udah pinter bahasa inggris aja nangis, padahal dia bisa jawab. Lah aku? Baru aja menghafal…”
            Riney diam. Ia duduk di bangku diantara sekolah-sekolah lain. Betapa malunya ia menjadi pusat perhatian mereka. Ia menutup wajahnya, menangis lagi.
            “Nih.”
            Sebuah tisu tiba dihadapannya. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang memberikan tisu itu. Dilihatnya cowok manis sedang duduk disampingnya. Cowok yang diperhatikan Riney sebelum dia di interview. Cowok itu ikut prihatin dan bertanya dengan lembut dan sopan, “kenapa nangis?”
            Riney menggeleng. Mencoba menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan cowok baik tersebut.
            Cowok itu berkata lagi, “Sabar yah. Pasti ada hikmahnya. Gak usah dipikirin. Mr.Tantowi emang kurang kerjaan. Nih tisu lagi…”
            Riney mengambil tisu lagi. Cowok itu tersenyum lalu pergi ketempat teman-temannya. Betapa bahagianya Riney dihibur oleh cowok manis dan baik hati yang tidak dikenalnya itu. Riney tersenyum lagi dan menoleh ke arah cowok baik itu dan mengucapkan “makasih” dengan bahasa bibir. Cowok itu tersenyum dan berkata “You are welcome”. Riney tak menyadari bahwa pipinya memerah.
Post a Comment